Cerita Sex Janur Kuning – Part 3

Cerita Sex Janur Kuning – Part 3by adminon.Cerita Sex Janur Kuning – Part 3Janur Kuning – Part 3 Bendera Polandia Silahkan duduk. Bama disambut oleh seorang lelaki yang umurnya kira-kira sebaya dengannya. Iya pak, jawab Bama memandang kagum Alex, pemilik PT. ETR. Saudara Bama ya? Dari Kereaktif Design? Saya sudah ngomong sama mas Beni, dia tertarik untuk membuat design box produk kami yang baru. Iya pak, tadi bos […]

tumblr_nkocgwvPIR1up9txto1_540 tumblr_nkpc9rYrMn1up9txto1_540 tumblr_nkqtcpWzP51up9txto1_540Janur Kuning – Part 3

Bendera Polandia

Silahkan duduk. Bama disambut oleh seorang lelaki yang umurnya kira-kira sebaya dengannya.

Iya pak, jawab Bama memandang kagum Alex, pemilik PT. ETR.

Saudara Bama ya? Dari Kereaktif Design? Saya sudah ngomong sama mas Beni, dia tertarik untuk membuat design box produk kami yang baru.

Iya pak, tadi bos saya menitipkan pre-design sama saya, jawab Bama sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada Alex.

Panggil saja saya Alex, kata bos PT ETR itu saat melihat gambar di atas kertas di tangannya.

Tapi Pak?

Ngak ada pake tapi, saya rasa umur kita ndak jauh beda kok. Lagipula saya belum menikah, aalagi punya anak, jadi gak cocok dipanggil pak, jawab Alex mengedipkan sebelah matanya pada Bama.

*****J-K*****

Ada apaan Ben? Tumben loe manggil gue dimari.

Gini Di, Loe tau kan kita udah deal sama Tarcoma soal baliho yang mau dipasang di BSD itu?

Tau Ben, kan si Bama yang kemaren nge-deal itu.

Nah itu, tadi mereka nelpon gue, katanya sample hasil cetak balihonya gak sesuai spek yag mereka kasih. Coba loe urus itu dulu ya Di. Loe cek samplenya dulu trus baru complain ke percetakannya., bisa? Nanti ajak aja si Santi.

Bisa, bisa gue jalan sekarang ya bos? Adi berbalik memunggungi Beni.

Eh, tar dulu Loe mau kesana make apa?

Make motor lah Ben, masa jalan kaki? Tar kalo lemak gue ilang kan berabe? Bisa jebol tu kanal banjir timur.

Hahahahha! Beni tertawa terbahak-bahak, bukan bukan gitu maksud gue. Mending loe kesana make mobil gue dulu, soalnya mobil kantor udah dipake bama ama Rio tadi.

Make mobil? Tumbenan loe baik amat Ben.

Lah emg loe gak denger tadi? Gue bilang loe ajak si Santi?

Santi? Adi mengarahkan pandangannya melihat melalui dinding kaca pada Santi yang sedang mengetik di luar ruangan pimpinan. Beneran ama Santi? Adi tidak dapat menahan senyum yang mengembang di wajahnya.

*****J-K*****

Adi berjalan dengan senyum terkembang sesaat setelah keluar dari ruangan Beni. Tangannya sibuk memainkan kunci mobil di saku celananya. Adi menghentikan langkahnya tepat di belakang Santi yang memunggunginya dan menarik nafas panjang. San, kita jalan ke kantor Tarcoma, mereka komplen baliho-nya gak sesuai, kata Adi saat menepuk pundak Santi dari belakang.

Santi yang sedang menulis twitter dikomputernya buru-buru menutup jendela aplikasi dan melihat pada Adi. Santi seakan tidak percaya jika yang menepuk pundaknya adalah Adi, hah? Sekarang?

Iya tadi bos nyuruh aku ngajak kamu.

Santi tersenyum kecut dan berpikir, apa gak ada orang laen ya di kantor ini? Masa gue disuruh jalan sama si badak?.

San?

Ahh, iya ayok. Kamu jalan aja dulu ke basement, tar lima menit aku susul, jawab Santi dengan senyum manis menggoda andalannya. Oo eem jiiii, kalo bukan jaga image gak mau dah gw senyam senyum sama badak Ujung Kulon.

Adi berlalu meninggalkan Santi dan bergegas menuju basement. Dia mengeluarkan smartphone dari sakunya saat berjalan menuju mobil Pajore Semprot dan bersandar pada pintu mobil hitam itu. Jarinya menekan layar smartphone beberapa kali sampai akhirnya mengetik @chantikajaah.
Tertulis di layar handphonenya

Santi Komala @chantikajaah 0m
Huffftt… must go with marshmallow #nasibditanganbos #badday

Santi Komala @chantikajaah 3m
Ganteng, macho, romantis, kaya dan. Sixpack RT @apamaumu hey girl, kalian mau punya pacar yang kaya gimana nih?

Ganteng, macho, romantis, kaya, sixpack, Adi membaca berulang-ulang tulisan di layar handphonenya dan melihat ke bawah, ke arah perutnya yang tambun. Glek! Adi menelan ludah membayangkan kerasnya usaha yang harus dilakukan untuk merombak bentuk perutnya seperti yang diinginkan Santi.

Wooii! Ngapain bengong?

Hah? Hah? Eh, enggak kok, jawab Adi yang kaget melihat kemunculan Santi dari arah pintu keluar kantor. Rok ketat Santi membuat bentuk pinggul montoknya dapat memancing lelaki normal manapun. Rok merah itu tidak pendek, bukan juga rok mini tapi kaki jenjang Santi yang membuatnya memperlihatkan separuh paha putih kebanggan pemiliknya. Highheels merah dan kemeja putih yang juga menunjukkan busung payudaranya melengkapi tema dresscode bendera Polandia Santi hari ini.

Jadi

Ja Jadi?

Kapan kita jalan kalo kamu gak bukain ni pintu mobil? kata Santi.

Hah? Ahh iya, kata Adi menepuk keningnya dan memencet tombol pada gantungan kunci mobil di tangannya. Dua buah suara beep! dari mobil Pajore terdengar sedetik kemudian.

Santi heran dengan tingkah Adi. Pupil hitam matanya berputar ke atas dan memaki dalam hati, dasar cowok!

*****J-K*****

Kalian kerja gimana sih?! Kok gak professional banget?! Gak biasanya Beni kerja kaya gini. Design baliho udah saya ganti dari tiga hari yang lalu lho.

Sudah setengah jam Santi dan Adi mendengar kemarahan bos PT. ETR yang emosi saat melihat hasil papan iklan yang dipesannya dari kantor mereka. Panas memerah kedua kuping Santi yang semula berwarna kuning langsat saat menerima cercaan Pak Danang. Adi yang bertugas menyelesaikan baliho PT. ETR hanya bisa memejamkan matanya saat bentakan Pak Danang meluncur bersamaan dengan gerakan tangaannya yang menggebrak meja.

Omelan Pak Danang semakin menjadi saat rayuan maut Santi gagal melunakan hatinya. Kamu piker saya ini om girang hah?! Gak usah bergaya kayak ikan keluar dari air gitu bisa kan?! begitulah bentakan Pak Danang pada Santi. Rayuan maut Santi, baru kali ini memjadi boomerang untuk dirinya sendiri, membuat setetes air berkumpul di sudut matanya.

Setelah Adi memastikan gambar baliho untuk PT. ETR dirubah dalam jangka waktu tiga hari, barulah Pak Danang melunak. Baiklah! Tiga hari ingat! Tiga hari atau kalian ganti rugi tiga kali lipat sesuai janji kalian!

*****J-K*****
Tiga kali lipat! Santi berteriak untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit sembari mengangkat tangan kirinya ke atas. Jari telunjuk, jari manis dan jari tengahnya mengacung ke atas membentuk simbol angka tiga. Kalian ganti rugi tiga kali lipat! Loe tau kan? Tiga kali lipat!

Adi menahan badan Santi yang hendak berdiri dan mendudukan gadis itu kembali. Udah San, udah gak enak diliatin orang orang.

Bukannya menjadi lebih tenang, Santi malah bertanya kepada seorang bapak botak di depannya, hei? Loe tau? Gue harus ganti tiga kali lipat tiga lipat ka-li.

Bapak botak tak berdosa itu mengerutkan alisnya ada Santi dan Adi. Seorang gadis muda yang duduk menyamping di atas pangkuan bapak botak itupun turut mengerutkan alisnya. Kemudian keduanya saling berpandangan dan secara bersamaan kembali melihat pada Santi yang sedang ditenangkan oleh Adi.

Maaf pak, maaf biasa dia gini kalo lagi mabok, kata Adi pada si botak.

Si botak yang kini mulai kelihatan dosanya itu menggeleng-geleng heran melihat Santi yang kalo mabok lu rese itu mulai memutar-mutar botol beer di tangan kanannya bagaikan seorang bartender. Gadis muda yang berdandan menor di pangkuannya malah menahan tawa melihat Adi yang sibuk menghindari botol di tangan Santi. Kejadian itu tak berlangsung lama hingga si botak mulai lagi meremas payudara gadis di pangkuannya.

*****J-K*****

Higa kali lihat. Higa haali lihat Santi menggumam tidak jelas saat pipinya menempel pada pundak Adi.

Iya San, iya tiga kali lipat loe kurus tapi berat loe tiga kali lipat dari perkiraan gue.

Higa kali lihat. Higa haali lihat Santi terus mengulang-ulang kalimat itu sejak keluar dari kantor PT. ETR.

Ya elah San, dari tadi itu mulu yang loe bilang loe ngomong apa kek gitu? Jangan itu terus, kata Adi saat menyusuri lorong panjang dengan beberapa pintu kamar berjajar. Gue tau loe kesel, loe marah sama dia tapi ya kita harus sabar San. Walo gimanapun Pak Danang itu bos udah mesen 20 baiho sama bos kita, mau gak mau ya kita harus kasi service yang bener. Nah, kita dah sampe di kamar loe.

San? Adi menolehkan kepalanya ke belakang sembari menggerakan pundaknya. San? Santi? Ya elah ni anak malah tidur.

Santi yang digendong oleh Adi hanya menggumam tidak jelas. Rambutnya berantakan, pakaiannya kusut tak beraturan. Aroma alcohol tercium tajam dari tubuhnya. Siapapun yang melihat Santi saat ini pasti langsung mengetahui gadis itu sedang teler parah. Memancing niat jahat dari lelaki hidung belang maupun hidung normal. Laki-laki mana yang tak tergoda melihat gadis cantik bertubuh sexy yang sedang mabuk berat?

Tak terkecuali Adi
Sejak memasuki kamar apartemen Santi, Adi terus berusaha menepis pikiran kotornya. Walaupun kedua benda empuk yang menempel di punggungnya terus menggoda. Walaupun kedua bokong semok yang disangga telapak tangannya meminta untuk sekedar diremas lembut. Walaupun Adi menyesal karena telah memakai celana dalam yang kini sesak luar biasa di selangkangannya tapi dia tetap bertahan.

Gue balik dulu ya San, kata Adi sesaat setelah membaringkan tubuh Santi di atas ranjangnya. Terdiam sesaat, Adi memandang Santi yang terkulai lemah tak berdaya. Bendera Polandia terlentang di atas seprai kuning muda. Adi menggelengkan kepalanya keras-keras. Tidak tidak! Aku bukan lelaki seperti itu, bathin Adi. Dia membalikan badannya dan mengayunkan langkah untuk pergi dari kamar itu. Beberapa meter dari ranjang Santi, langkahnya tertahan. Dia mendengar suara lirih menyedihkan.

Hiks hiks jangan pergi aku takut sendiri

bersambung…

Author: 

Related Posts