Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 2

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 2by adminon.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 2Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 2 Werkudoro Melas ~~~oOo~~~ Sebut Ibu itu manusia paling bawel sedunia. Tapi jangan lupa juga, Ayah adalah manusia paling kejam dan sadis sedunia. Dan Bimo merasakan itu, betapa kejam dan tak berkeprianakmudaan Ayahnya. “Mulai besok, uang jajan kamu di potong separuh.” “What?!” “Ya kalau nggak mau, terpaksa […]

multixnxx-Black hair, Long hair, Asian, Interracial,-5 multixnxx-Black hair, Long hair, Asian, Interracial,-13 multixnxx-Black hair, Long hair, Asian, Interracial,-14Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 2

Werkudoro Melas

~~~oOo~~~
Sebut Ibu itu manusia paling bawel sedunia. Tapi jangan lupa juga, Ayah adalah manusia paling kejam dan sadis sedunia. Dan Bimo merasakan itu, betapa kejam dan tak berkeprianakmudaan Ayahnya.

“Mulai besok, uang jajan kamu di potong separuh.”

“What?!”

“Ya kalau nggak mau, terpaksa motor Ayah tarik lagi.”

Kata-kata Ayah tadi sore membuat Bimo seketika galau level kabupaten. Baru sehari menikmati indahnya hidup gagah-gagahan pakai motor Superbike, malah di kasih pilihan sulit, bahkan teramat sangat sulit. Motor apa uang saku?

Mati sajalah Dunia!

Dua-duanya penting. Tanpa motor, apalah arti diri ini. Baru tadi siang menyombong setinggi langit. Kalau tiba-tiba motor di tarik, mau di taruh di mana mukanya. Masa dia harus naik motor matic lagi, Ogiah!

Uang saku juga penting. Kalau di potong separuh, terus bagaimana dia harus menjalani masa remajanya yang perlu jalan-jalan dan jajan. Bukankah masa remaja itu masanya hura-hura. Terlalu!

“Aaaaah!” Bimo menggeram frustasi. “Nggak iklas banget sih ngasih motornya.” Runtuknya kesal.

Dengan kesal Bimo meloncat turun dari tempat tidur dan terus menggeloyor keluar. “Bim… mau kemana?” Tanya Pak Edi -Ayahanda Bimo-, manusia berlabel sadis tidak berkeprianakmudaan dalam kriteria Bimo.

“Ke Arimbi.” Jawab Bimo datar sambil terus menggeloyor pergi.

“Udah malam… bukannya tidur.”

“Mau tidur di sana.”

oOo
Blugh!

Bantingan kasar di sampingnya memaksa Arimbi yang hampir terbuai mimpi terpaksa harus membuka mata. “Kenapa sih?” Tanya Arimbi malas sambil menyeka sudut bibirnya.

“Daku galau.”

Perlahan Arimbi berbalik miring ke arah Bimo. “Ada apakah gerangan Kisanak, apa yang telah membuat dikau galau gundah gulana seperti itu?”

“Daku bingung Nyisanak. Daku terjebak di antara dua pilihan.”

“Pilihan apakah gerangan itu?”

“Heeh…” Bimo menghela nafas berat.

“Bolehlah kiranya hamba tau.” Lanjut Arimbi.

“Begini Nyisanak. Daku di hadapkan kepada dua pilihan rumit.” Bimo sejenak berhenti dan meletakkan lengan kanannya di dahi. “Antara motor dan uang saku.”

“Hf…” Arimbi berusaha menahan tawa mendengar alasan kegalauan Bimo. “Hwahahahaha…” sampai akhirnya gelak tawa itu pecah tak mampu lagi di tahan.

Bimo mendelik sinis melihat Arimbi malah menertawakannya. “Seneng?”

“Banget.” Jawab Arimbi sambil mengangguk semangat.

“Kok malah seneng sih?”

“Ya seneng lah… biar kamu nggak sombong lagi, karma itu namanya.”

“Jiaaah… bukannya ngasih solusi malah…”

“Lha terus kamu maunya aku gimana? Nangis bombay gitu?”

“Ya bantuin mikir kek, apa kek.”

“Setelah tadi pagi di tinggalin, terpaksa ngangkot, terus sekarang di suruh bantuin mikir? Kerajinan banget.”

“Gitu sih… tadi dah di traktir bakso juga.”

“Bodo… aku ngantuk, mau tidur.” Arimbi kemudian berbalik memunggungi Bimo sambil menarik selimut. Tak berapa lama kemudian suasana hening, tinggal menyisakan jam dinding yang setia berdetak dan Bimo yang sedang sibuk menimbang pilihan.

Galau membuat otak dan tubuh Bimo tidak singkron. Kasur empuk Arimbi terasa keras, mengusir jauh-jauh rasa nyaman, membuatnya bolak balik menggeliat seperti ular di kasih garam. Lelah berfikir, tanpa sadar Bimo akhirnya juga tertidur.

Mereka tidur bareng?

Yup… betul sekali.

Cowok dan cewek tidur bareng. Terdengar mesum untuk ukuran bukan suami istri, tapi biasa untuk Bimo dan Arimbi. Bukan baru sekali dua kali mereka tidur bareng, dan tidak ada yang pernah mempermasalahkan itu. Kedua orang tua mereka menganggap itu hal biasa.

Dan selama ini, meskipun sering tidur bareng, tapi tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh di antara mereka. Mereka tidur dalam artian tidur sesungguhnya, tanpa tanda kutip. Walau kadang sesekali Bimo jahil grepe-grepe, tapi Arimbi membiarkan dan memakluminya, sejauh belum keterlaluan.

oOo
Sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Dengan malas Arimbi menggeliat dan perlahan membuka mata. Tersungging senyum di bibirnya mendapati sebuah tangan asik memeluk pinggangnya.

Perlahan Arimbi menyingkirkan tangan itu. “Bim… Bimo… bangun.” Kemudian dengan lembut membangunkan sang empunya tangan itu.

“Eeeeengh…” Bimo menggeliat malas.

“Bangun… dah subuh.”

Dengan malas Bimo mengejap membuka mata. “Jam berapa?”

“Udah subuh. Sholat nggak?”

“Eeeeengh…” Bimo malah menarik selimut semakin tinggi dan membenamkan wajahnya di bantal. “Nitip salam aja, bilangin Bimo lagi galau.”

“Kampret!” Arimbi menggebuk Bimo dengan bantal kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Baru Arimbi mau membuka pintu kamar mandi… “Mau ngapain?”

“Mandi.”

“Katanya lagi galau?”

“Kalau di mandiin nggak jadi galaunya.”

“Di pending?”

“He’eh.”

“Tapi satu syarat.”

“Apa?”

“Nggak boleh nakal.”

Omigod… Mandi bareng?!

Bilang mereka keterlaluan. Dan kalau hal yang satu ini memang iya. Kedua orang tua mereka tau dan memaklumi kalau mereka tidur bareng. Tapi mandi bareng, kedua orang tua mereka tidak tau itu.

Bobok bareng, sampai mandi bareng. Hubungan Bimo dan Arimbi memang susah dan semakin susah di artikan. Bukan pacar tapi mesranya melebihi orang pacaran. Kemana-mana selalu berdua, nempel terus kayak prangko.

Bukan suami istri tapi sering tidur bareng dan tidak ada yang mempermasalahkan. Sesekali grepe-gepe sampai kadang Bimo nekat mencium bibir, tapi Arimbi memaklumi. Hanya sesekali dia marah, itupun bukan benar-benar marah.

Ajaib! Di tambah lagi ternyata mereka juga sering mandi bareng. Fantastis! Kegiatan privat yang mempertontonkan tubuh polos tanpa di tutupi sehelai benang juga mereka anggap biasa.

Saking seringnya mandi bareng, Bimo sampai hafal setiap lekuk tubuh Arimbi. Seberapa indah lekuk tubuh Arimbi, sebesar apa ukuran dada Arimbi, bahkan sampai selebat apa bulu kemaluan Arimbi, semua Bimo hafal di luar kepala.

Pun demikian dengan Arimbi. Gadis manis bergigi kelinci itu juga hafal betul setiap inci tubuh Bimo. Selebat apa bulu kemaluan Bimo, berapa ukuran kemaluan Bimo saat tertidur, bahkan berapa ukurannya saat terbangun.

Terbangun?

Sebagai cowok normal itu jelas. Berhadapan dengan cewek cantik telanjang dengan lekuk tubuh aduhai indah sempurna, hanya ada tiga macam cowok yang tidak bisa bangun karenanya.

1. Cowok tanpa barang

2. Cowok impoten

3. Cowok Gay / Banci

Dan Bimo bukan salah satu dari ketiga kriteria itu. Jadi wajar kalau dia bangun sebangun bangunnya. Tapi biar begitu, tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh. Mereka mandi bareng sebenar-benarnya mandi, tanpa embel-embel atau tanda kutip.

~~~oOo~~~
Setelah di fikir dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, akhirnya Bimo sampai pada satu keputusan, Motor. Konsekuensinya jelas, Bimo terpaksa harus merelakan jatah uang sakunya di remisi, di potong separuh. Tapi dunia belum kiamat. Selama masih ada Arimbi di muka bumi ini, keadaan aman terkendali.

“Rim… beli bakso yuk?”

“Punya duit?”

Bimo menggeleng dengan mimik wajah di lucu-lucuin.

“Nggak punya duit kok sok-sokan ngajakin cewek makan.”

“Kan ceweknya yang bayarin.”

“Emang aku cewekmu?”

“Bukan.” Jawab Bimo sambil menggeleng.

“Terus?”

“Ya pokoknya kamu yang bayarin.”

“Huuuu…” Runtuk Arimbi sambil menoyor kepala Bimo.

Tidak ada salahnya menjadikan Arimbi ATM berjalan. Toh sebagai balasannya Arimbi setiap hari nangkring di boncengin R6. Boncengan yang menjadi dambaan setiap cewek, dan nyatanya hanya Arimbi satu-satunya cewek yang pernah nangkring cantik di sana.

Lagi pula Arimbi adalah tipe cewek berkelebihan uang saku. Membagi sebagian uang sakunya dengan Bimo bukan hal yang sulit dan tidak akan mengganggu stabilitas keuang sakuannya. Dan setelah sebulan berlalu, dan semuanya tetap baik-baik saja.

@QueenArimbi

100 ribu… dan si kampret-pun bolos.

Tweet Arimbi di akun twitter miliknya. Dan seperti biasa, setiap Arimbi membuat tweet atau status, pasti langsung banjir mention bercie-cie ria.

“Rim…” Tepukan Wanda di bahu menginterupsi keasikan Arimbi membalas mention twitter-nya. “Tumben… Gusti Prabu kemana?”

“Nggak baca tweet ku?”

Wanda menggeleng sambil duduk di samping Arimbi. Teman sekelas Arimbi itu kemudian mengeluarkan handphone dari saku seragamnya, dan langsung membuka aplikasi twitter. “Oooo…” Respon Wanda begitu membaca tweet Arimbi. “Bolos kemana sih dia?” Lanjut wanda.

“Tau…”

“Nggak pamit?”

Arimbi menggeleng, kemudian mengerutkan dahi membaca mention tweetnya, mention dari orang yang sedang duduk di sampingnya, @Wanda_Cantique.

“Ngomong langsung aja napa sih?” Runtuk Arimbi sambil mendelik menatap Wanda.

“Ya kalau ngomong langsung apa gunanya sosmed?”

“Dasar.”

“Kan sosmed mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.” Sambung Wanda imut sambil bergaya ala JKT48.

“Najis!”

Kedua cewek itu kembali asik bermain jempol di atas layar handphone masing-masing. Mention demi mention di balas, status demi starus di komeni. Ceklang ceklung notif bbm saling bersahutan.

~~~oOo~~~
Matahari mulai bersemu jingga di ufuk barat. Teduh perlahan jatuh di punggung cakrawala berselimut mega tipis. Di halaman rumahnya, Bimo sedang asik memandikan motor kesayangannya.

“Dari mana saja kamu tadi?” Tanya Arimbi tiba-tiba. Gadis itu terlihat segar sepertinya baru selesai mandi. Aroma sabun masih jelas tercium wangi, rambut panjangnya juga masih basah harum shampo.

“Biasa…” jawab Bimo santai sambil terus menyabuni motornya.

“Mabok?”

“Enggak.”

“Beneran?

“Ciyus.”

“Kok nggak balik ke sekolahan.”

“Balik, tapi kamunya udah pulang.”

“Nggak bohong kan?”

“Enggaaaaak.”

“Ya udah… cepetan nyuci motornya, terus mandi, terus jemput aku.” Ucap Arimbi kemudian sambil menggeloyor pulang.

Perintah Arimbi barusan terdengar bagai angin mamiri di telinga Bimo. Lembut dan menyejukkan. Menjemput artinya jalan-jalan. Jalan-jalan berarti jajan-jajan. Dan jajan-jajan berarti gratis alias di traktir.

“Oh iya… Sekalian isi Pertamax. Full tank!” Batin Bimo girang membayangkan bonus demi bonus yang bakal di terimanya. Mantap!

Selesai mencuci motor, Bimo langsung mandi dandan yang ganteng, kemudian langsung meluncur ke rumah Arimbi. “Mau kemana Bim?” Tanya Pak Danu -Ayah Arimbi-.

Dengan sopan Bimo langsung menjabat dan mencium tangan Ayah Arimbi itu. “Jalan-jalan Paklik.”

“Oooo…”

“Bimo masuk dulu ya Paklik?”

“Hh…”

Belum sempat Bimo beranjak, Arimbi sudah terlihat berlari keluar. “Ayo…” ujar Arimbi sambil menarik Bimo. “Yah… Arim mo jalan dulu ya.”

“Iya… hati-hati.”

Motor Bimo kemudian menderu sangar. Suara mesin berkapasitas 600 cc itu terdengar begitu menggoda, memaksa siapa saja yang mendengar suara raungannya wajib menoleh melihatanya.

Saat berhenti di lampu merah, motor-motor bebek yang berhenti di sekitarnya terlihat seperti kurcaci, kecil dan murah menjurus murahan. Bahkan pemilik Ninja 250 cc yang awalnya terlihat sombong langsung tertunduk lesu begitu mendengar deru mesin motor Bimo.

Whuuuuum…

Terlihat dari tatapan mereka, tersimpan iri di dalam hati. Laki-laki mana yang tidak menginginkan mengendarai motor itu, terlebih dengan gadis secantik Arimbi yang nangkring di boncengannya. Di tambah posisi duduk Arimbi yang nungging habis membuat cowok-cowok normal yang melihatnya hanya bisa mengelus dada.

Enak banget tu bocah, di sodok nenen kek gitu. Bolong-bolong deh itu punggung. Mungkin seperti itu jerit hati iri mereka-mereka yang melihat betapa enaknya punggung Bimo di gencet nenen Arimbi.

Dan perempuan mana yang tidak ingin menggantikan posisi Arimbi. Berada di boncengan motor itu adalah waaaow. Apalagi di bonceng cowok paket komplit seperti Bimo. Double waaaow.

“Mirip kita dulu ya Mbok?” Bisik seorang bapak tua botak kepada istrinya. “Romantis.”

“Iya Pakne.” Sahut sang Istri sambil mengeratkan pelukannya dan sedikit memundurkan bokongnya di ujung jok Astrea Impressa agar bisa sedikit nungging seperti Arimbi.

Whuuuuum…

Begitu lampu merah berganti hijau, Bimo langsung membetot gas motornya, melesat cepat meninggalkan motor-motor murah muntah-muntah di belakangnya.

“Isi Pertamax dulu ya Rim?” Kata Bimo sambil membelokkan motornya masuk sebuah SPBU.

“Iya.”

“Bayarin.”

“Iyaaaa…” Dan dua lembaran merah bergambar Soekarno-Hatta terpaksa keluar dari dompet Arimbi. “Terus langsung ke kafe biasa ya.”

“Woke.”

Selesai mengisi Pertamax, Bimo kembali memacu motornya menuju sebuah kafe. Ngalamat kongkong-kongkow cantik plus jajan-jajan gratis memacu semangat Bimo. Uang jajan di remisi? No problemo!

Tapi kenyataan sesampainya di kafe, ngalamat tinggal ngalamat. Tidak ada yang namanya kongkow-kongkow cantik plus jajan-jajan gratis. Yang ada hanyalah obat nyamuk.

Ya… Obat nyamuk!

Di cafe itu ternyata Arimbi ada janji dengan seseorang. Kencan lebih tepatnya. Dan sadisnya, Arimbi melarang Bimo masuk, membiarkan Bimo menunggu di parkiran dengan alasan, “aku nggak mau kencanku terganggu dengan adanya kamu.”

Dengan kesal sambil menggerutu dan melafalkan segala sumpah serapah, Bimo terpaksa menunggu. Hatinya sakit melihat Arimbi bercengkrama ria dengan seseorang di dalam sana. Sakit bukan sakit karena cemburu, tapi sakit membayangkan oh nikmatnya minuman yang mereka nikmati.

“Teh manis anget? Bukan bukan bukan. Mmmm… kopi item? Ah nggak mungkin. Cappucino? Ya ya ya… bisa jadi. Eh tapi bukan ding. Kayaknya sih bandrek, atau bisa juga wedang ronde.” Batin Bimo berusaha menebak apa yang di minum Arimbi dan teman kencannya di dalam.

Anjieeeeeng!

“Itu Bimo nggak di suruh masuk Rim?” Tanya Aditya, teman kencan Arimbi.

Arimbi sekilas melirik ke arah Bimo yang menunggu di luar. “Nggak usah… biarin aja.” Jawabnya sambil menikmati minumannya.

“Paling nggak pesenin minuman apa kek gitu.

“Nggak usah, ntar kalau mau dia juga pasti beli sendiri.”

Wajah cemberut kesal Bimo di luar sana membuat Arimbi tersenyum senang. Kenyataan Bimo takut dengan ancamannya, “jangan coba-coba kabur! Kabur… berarti nggak ada bantuan uang jajan.” membuat hati Arimbi berteriak menang.

Dari jauh Arimbi bahkan bisa melihat Bimo menelan ludah pengen, dan itu semakin membuat Arimbi puas. Gaya minumnya semakin di bikin-bikin, ekspresi nikmatnya di lebih-lebihkan.

“Mangkanya jangan berani macem-macem sama Queen Arimbi. Membiarkan gadis secantik Queen Arimbi tadi siang kepanasan nungguin angkot adalah kejahatan besar. Dan itu hukumanmu!”

Ternyata jadi orang miskin itu rasanya begini, menderita dan teraniaya. Sakitnya tu di sini! Dan sekarang, Bimo merasakan bagaimana rasanya menjadi si miskin. Cuma bisa pengen dan hanya bisa berpuas diri dengan menelan ludah.

Ludah-pun juga bisa rasa Cappucino kok gaes…

~~~oOo~~~

Ora mung Bolodewo sing iso

Werkudoro yo iso ilang gapite sauntoro

Masio gede duwur gagah prakoso

Gegaman godo rujak polo lan kuku ponconoko

Tapi sak kolo langsung lemes tanpo doyo

Naliko ngadepi Arimbi putri rasekso

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts