Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 45

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 45by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 45 Pendekar Naga Mas – Part 45 Raja bisa, rasul ular. Mendadak kedua orang nona itu merasakan perutnya sangat mual, buru-buru mereka merogoh ke dalam saku mengambil sebutir pil dan cepat dijejalkan ke dalam mulut. Beberapa saat kemudian keadaan baru sedikit membaik, ketika mengangkat kepala lagi, tampak Cau-ji telah menyerbu masuk ke dalam gedung itu. Biarpun […]

multixnxx-Tight Lookin Asians -15multixnxx-Tight Lookin Asians -0  multixnxx-Tight Lookin Asians -19Pendekar Naga Mas – Part 45

Raja bisa, rasul ular.

Mendadak kedua orang nona itu merasakan perutnya sangat mual, buru-buru mereka merogoh
ke dalam saku mengambil sebutir pil dan cepat dijejalkan ke dalam mulut.
Beberapa saat kemudian keadaan baru sedikit membaik, ketika mengangkat kepala lagi, tampak Cau-ji telah menyerbu masuk ke dalam gedung itu.

Biarpun suasana dalam ruang utama gelap gulita, namun Cau-ji masih dapat melihat kalau di atas meja masih terdapat sisa hidangan, kelihatannya belasan orang itu baru saja berpesta-pora di sana.
Dengan tujuan akan menghabisi sisa lebah beracun yang masih hidup, secara beruntun Cau-ji menembusi dua buah halaman gedung dan tiba di tengah sebuah halaman kecil yang penuh ditumbuhi bunga.

Setelah menaiki tiga undak-undakan batu, ia pun mendorong sebuah pintu ruangan.
Ruangan ini tampak remang-remang, Cau-ji segera mendengar suara mendesis yang amat tajam.
Dengan hati tercekat segera pikirnya, “Tak kusangka di sini masih tersisa ikan yang lolos dari jaring!”

Begitu diamati lebih seksama, tampaklah seorang gadis cantik jelita sedang berbaring di atas meja dalam keadaan telanjang bulat, di sekeliling meja terdapat empat ekor ular berbisa yang saat itu sudah mengangkat kepala siap memagut Cau-ji.
Sebuah pemandangan yang mengerikan.

Gadis itupun sedang mengawasi Cau-ji dengan sorot mata ketakutan, seluruh tubuhnya yang bugil sama sekali tak mampu bergerak, jelas jalan darahnya telah ditotok orang.
Tanpa terasa Cau-ji pun melangkah maju lebih ke depan.
Begitu dia bergerak maju, keempat ekor ular berbisa itu segera melesat maju melancarkan serangan.
“Dasar ular sialan umpat Cau-ji sambil mengayunkan tangannya.
“Plaak …!”, tak ampun lagi keempat ekor ular itu mencelat ke belakang dalam keadaan binasa.
Cau-ji tertawa hambar, baru saja dia akan maju mendekat untuk membebaskan gadis itu dari totokan, mendadak dilihatnya gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali, dalam tertegunnya, tanpa sadar dia pun menghentikan langkah.

Pemuda itu mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tak ada yang mencurigakan, maka tanyanya keheranan, “Nona, apakah kau maksudkan di sekitar sini masih ada jebakan?”
Gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali.

Sekali lagi Cau-ji pasang telinga, betul saja, dari bawah tanah terdengar suara dengungan yang terdengar secara lamat-lamat.
“Bagus sekali!” serunya kemudian kegirangan, “rupanya di bawah sana masih ada lebah beracun.”

Sambil melolos pedang pembunuh naganya, kembali Cau-ji melangkah maju.
Melihat pemuda itu merangsek maju, nona bugil itu kelihatan makin panik, dia mengedipkan mata.
Sayang usahanya itu sia-sia belaka, karena waktu itu seluruh perhatian Cau-ji sudah tertuju untuk menemukan lebah beracun, ia sama sekali tidak melihat kedipan matanya.

Ketika berada beberapa jengkal dari tepi meja, Cau-ji kembali mendengar suara gemerincing. “Criiiing!”, menyusul kemudian tampak sebuah ubin bergeser ke samping dan dari balik tanah muncullah segerombolan bayangan hitam.
“Bagus sekali!” seru Cau-ji sambil mengayun pedangnya.

Sekilas hawa dingin menyambar, berpuluh ekor lebah beracun yang baru muncul dari balik ubin seketika terpapas hancur dan mampus.

Tapi kawanan lebah beracun itu sungguh bandel, mati satu tumbuh seribu, kembali bayangan hitam merangsek ke atas.
Cau-ji kembali memutar tangan kiri dan pedang di tangan kanannya, mati-matian dia sumbat lubang itu.

Sepeminuman teh kemudian suara dengungan itu mulai sirna.
Sambil menghembuskan napas lega, bisik Cau-ji, “Wah … akhirnya kawanan lebah itu berhasil kumusnahkan!”
Sambil berkata dia menghampiri gadis bugil itu.

Mendadak dari luar pintu kamar terdengar nona berbaju hitam berteriak keras, “Hati-hati lebah beracun!”
“Masih ada lebah beracun?” tanya Cau-ji tertegun.
Cepat dia menyelinap ke samping, siapa tahu baru dia tertegun, tahu-tahu punggungnya terasa
sakit sekali. “Aduuh!” diiringi jeritan mengaduh, tubuhnya seketika roboh terjungkal ke tanah.

Lamat-lamat dia masih sempat mendengar nona berbaju putih bersorak kegirangan, “Adik kecil,
rupanya kau berada di sini!”
Menyusul kemudian ia merasakan luka bekas sengatan lebah itu sakit sekali, lalu dia pun jatuh tak sadarkan diri.

Author: 

Related Posts