Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 13

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 13by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 13My HEROINE [by Arczre] – Part 13 BAB XII: RED ASSASIN #PoV Azkiya# Mendapatkan nama Brooke, sepertinya bukan nama yang jelek menurutku. Ibuku yang memberikannya dengan bantuan Carson, salah seorang yang membantu kami untuk mendapatkan identitas baru. Nama asliku adalah Azkiya. Aku adalah keturunan suku Kurdi terakhir, ibuku lebih tepatnya adalah terakhir. Aku berada di […]

tumblr_nwzmxlzY901ufm2eto3_500 tumblr_nwzmxlzY901ufm2eto4_500 tumblr_nx0i6jwc051utphkio1_400My HEROINE [by Arczre] – Part 13

BAB XII: RED ASSASIN

#PoV Azkiya#

Mendapatkan nama Brooke, sepertinya bukan nama yang jelek menurutku. Ibuku yang memberikannya dengan bantuan Carson, salah seorang yang membantu kami untuk mendapatkan identitas baru. Nama asliku adalah Azkiya. Aku adalah keturunan suku Kurdi terakhir, ibuku lebih tepatnya adalah terakhir.

Aku berada di rumah setelah pulang sekolah. Membantu ibuku membersihkan rumah, memasak dan kemudian belajar. Ibuku tampak sedang duduk di sebuah kursi, tatapan matanya menerawang jauh. Aku perhatikan lampu indikator di lehernya menyala. Iya, ibuku separuh tubuhnya telah diganti dengan robot. Beliau sekarang menjadi Cyborg.

Ada cerita yang menyayat hatiku. Beliau menceritakannya bahwa semua yang terjadi kepada tubuhnya ini, adalah hasil dari pertarungannya dengan musuh terakhirnya. Beliau terluka parah. Bahkan menurut dokter jantungnya sempat tidak berdetak lima kali dalam sehari dan harus dipompa manual. Akhirnya beliau pun jantungnya separuh dipasang artificial. Beliau adalah seorang pejuang dan aku pun anaknya juga pejuang. Lampu indikator di lehernya itu sebagai pertanda, bahwa beliau harus charge batteray agar jantungnya tetap bisa berdetak.

Memang berat hidup seperti ibuku. Tapi inilah yang beliau bisa. Aku memilih sekolahku sendiri ketika aku sudah tiba di kota ini. Terlebih lagi pekerjaanku juga ada di kota ini. Hidup sering berpindah-pindah membuatku pusing, selalu mengurus ini dan itu. Terlebih hanya akulah yang bisa keluar rumah. Ibu tidak bisa sering keluar, kalau keluar tiba-tiba batteray-nya habis ya tidak bagus juga kan?

Memang ada alat yang tidak mengharuskan beliau selalu men-charge batteray yang menempel di tubuhnya. Tapi harganya sangat mahal. Dan untuk itulah aku bekerja keras demi mendapatkannya.

Sejak berumur 10 tahun aku sudah memegang senjata. Sejak umur 12 tahun aku sudah menjadi pembunuh. Semua pekerjaan aku lakukan untuk bertahan hidup. Semuanya diajarkan oleh ibuku. Sejak kecil aku sudah diajarkan cara untuk menembakkan senjata, menyayat daging, diajarkan untuk membunuh dengan cepat, diajarkan cara bertahan hidup. Hingga kemudian ibuku bisa melepaskan aku sendiri untuk menjadi seorang assasin.

Aku masih teringat tugas pertamaku dulu. Membunuh seseorang pemuda. Ibuku mengariku untuk merayu laki-laki, merayu target kemudian bunuh dia kalau lengah. Target pertamaku itulah yang aku bunuh dengan sayatan pisau cutter di lehernya. Dan aku melihatnya sampai dia tidak bernafas kehabisan darah.

Saat itu adalah malam tak berbintang. Mendung. Dan aku melihat sang target. Dia adalah seorang pemerkosa. Tentunya dengan melihatku berjalan sendirian dia akan lebih mudah untuk mendekatiku. Dia pun mendekatiku. Di sebuah kegelapan sudut kota, di sebuah gang yang sempit. Dia langsung membekapku, percuma aku meronta, karena aku memang ingin diperlakukan seperti itu. Dia menciumi leherku, menghisapnya dan meremas buah dadaku. Melihatku tak melawan ia semakin menjadi. Rokku dinaikkan, kemudian dia sudah melucuti baju atasku begitu saja, kancing kemejaku sudah terbuka, braku sudah dinaikkan terpampanglah sekarang kedua buah dadaku.

Pemuda ini pun segera menyosor untuk menghisapnya. Dasar lelaki, ketika melihat sesuatu yang ranum mereka pasti langsung menerkam. Itulah kelemahan sejati mereka. Sang pemerkosa itu tak tahu kalau di dalam mulutku ada sebuah potongan pisau cutter kecil. Aku gigit potongan itu lalu aku goreskan ke lehernya. SRAAAATTTHHHH! Potongan itu pun langsung membuat sebuah garis lurus melintang yang memotong urat leher sang pemerkosa. Dia melihatku terbelalak, matanya menatapku nanar. Kedua tangannya langsung memegang leher. Itulah korban pertamaku.

Menjadi pembunuh bayaran dan juga seorang anak sekolahan. Bagaimana aku bisa menggabungkan keduanya? Itu tidak mudah sebenarnya. Tapi aku mencoba menikmatinya. Ide bersekolah ini adalah dari diriku sendiri. Ibuku memang membebaskanku dalam hal yang aku suka. Kebetulan aku suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sains. Dan untuk itulah aku rela bersekolah di sekolah yang terbaik agar bisa menyalurkan cita-citaku. Cita-citaku? Seorang pembunuh bayaran punya cita-cita? Iya, aku ingin bisa membuat jantung artificial sendiri untuk ibuku. Itulah cita-citaku. Tak salahkan?

Di sekolah ini aku kenal dengan seorang pemuda yang ketika pertama kali bertemu langsung mencuri hatiku. Dialah Yuda. Dia tak seperti pemuda pada umumnya. Dari semua pemuda yang aku kenal, Yuda termasuk orang yang paling baik. Aku tak mengerti bagaimana ia bisa begitu ramah kepadaku, padahal kami baru kenal. Dan entah bagaimana ia bisa langsung akrab denganku.

Tapi mungkin rasa sukaku hanya bertepuk sebelah tangan ketika aku mengetahui bahwa dia sudah mempunyai hubungan khusus dengan Han Jeong, teman sekelasku. Tapi tak apa. Aku masih menyukainya. Toh untuk menyukai seseorang aku tak harus mengharapkan dirinya bukan?

Hari ini, aku ingin bisa berbuat baik kepada Yuda. Aku membuatkan omelet. Sekalipun aku tak berharap banyak ia akan menerimanya. Ya, aku tak berharap banyak ia akan menerimanya. Terlebih pasti Han Jeong membuatkan sesuatu untuknya. Setelah mempersiapkan bekal, aku pun berangkat.

Di sekolah ada yang aneh hari ini. Han Jeong kemana? Seharusnya ia hari ini duduk dengan Yuda. Akhirnya aku pun kembali duduk sebangku ama Yuda.

“Keberatan?” tanyaku.

“Nggak, silakan saja. Lagian Han Jeong nggak masuk karena sakit,” jawab Yuda.

“Makasih, hehehe.”

Aku kemudian menunjukkan kotak bekalku. Yuda menegakkan alisnya.

“Mau?” tanyaku

“Apa ini?”

“Omelet, silakan deh dicoba!”

Dia membuka kotak bekal itu.

“Boleh nih?” tanyanya.

“Silakan aja, nggak beracun koq. Hihihihi.”

Yuda pun mengambilnya. Dia mulai mengunyah.

“Enak, kamu yang masak?” tanyanya.

“Iya dong,” jawabku sambil tersenyum. Syukurlah ia suka. Nah, sekarang aku melihat dia makan rasanya lega banget. Dag dig dug jantungku berdebar. Kenapa ya?

“Han Jeong sering bikin bekal?” tanyaku.

“Kadang sih, kalau dia sedang ada eksperimen menu baru pasti dia bikin,” jawabnya.

“Oh… kalau kamu tak keberatan, aku akan bikin bekal buatmu tiap hari,” kataku.

“Nggak usah. Nanti merepotkan, lagian Han Jeong orangnya pencemburu.”

Aku menghela nafas.

“Yah, kalau nggak ketahuan dia sih nggak apa-apa,” katanya.

Aku tersenyum gembira.

“Habisin deh!” kataku sambil menyodorkan omeletnya.

Aku senang hari itu dia menghabiskan omeletnya.

Untuk sementara waktu aku duduk bersebelahan dengan Yuda, hal itu membuatku nyaman. Tapi besok aku harus kembali ke tempat dudukku. Karena mungkin Han Jeong akan masuk besok. Aku ingin memanfaatkan waktu satu hari ini bersamanya.

“Yud, boleh nggak hari ini kamu nganterin aku?” tanyaku.

“Ke mana?”

“Aku ingin membelikan kado buat ibuku.”

“Hmm…? Kado?”

“Iya, soalnya sebentar lagi beliau ulang tahun. Boleh ya?”

Yuda mengangguk. Horeeeeeee. Aku senang sekali. Setelah pulang sekolah beneran Yuda menemaniku. Hari ini aku akan berbelanja dengan Yuda. Aku memutuskan untuk membeli sebuah baju untuk ibuku. Walaupun beliau tak begitu suka dengan hadiah, tapi kuharap baju ini bisa beliau terima. Selama belanja aku selalu bertanya kepada Yuda, baju apa yang pantas dipakai oleh ibuku. Aku lebih banyak bertanya kepadanya, berdiskusi dengannya. Aku bisa merasakan bahwa Yuda benar-benar tulus menemaniku, menolongku. Tak ada modus, tak ada maksud tersembunyi.

Selama kami jalan, ia selalu bercerita tentang Han Jeong. Aku pun mengorek keterangan darinya tentang Han Jeong. Mereka ternyata sudah berteman sejak SMP. Han Jeong juga ikut silat di padepokannya. Mereka boleh dibilang satu perguruan. Dia bilang kalau selera berpakaian Han Jeong itu tomboy, jadi kalau dia milih baju perempuan pasti akan berlawanan dengan selera Han Jeong.

Dari tatapan matanya aku bisa menyadari bahwa dia sangat menyukai Han Jeong. Rasanya aku sudah tak ada tempat lagi untuk masuk di hatinya. Memang sakit mencintai orang yang sudah dimiliki oleh orang lain. Tapi, aku kan tidak salah. Tak ada yang disakiti, aku sendiri yang sakit.

Dia sekarang berada di depan apartemen rumahku. Dia bersedia mengantarku pulang. Yuda sangat baik.

“Yud, boleh aku minta satu hal lagi?” tanyaku.

“Apa?”

Aku langsung buru-buru menangkap lehernya dan aku memajukan wajahku. Aku mencium bibirnya. Tentu saja Yuda kaget. Tapi ia tak mencegahku, ia diam sampai aku melepaskan ciumanku.

“Kamu ini kenapa?” tanyanya.

“Maafkan aku Yud. Aku tahu aku tak akan punya kesempatan untuk bisa mendapatkan hatimu. Ini aku berikan sebagai ucapan terima kasihku. Kalau seandainya nanti kita bertemu dalam keadaan lain, kau orang yang spesial bagiku. Aku tak akan bisa menyakitimu,” kataku.

“Keadaan lain?” ia bingung.

Iya, seandainya nanti ada tugas aku harus membunuhnya. Aku tak akan mengambilnya. Aku sudah tanamkan kepada hatiku, bahwa hatiku adalah rumahnya. Aku sudah berjanji dia adalah cintaku sampai kapanpun.

“Makasih,” kataku. Setelah itu aku bergegas pergi naik ke apartemenku meninggalkan dirinya dengan seribu pertanyaan.

Begitu masuk apartemenku, ibu duduk di jendela melihat ke bawah. Aku melempar bungkusan kado itu ke meja. Beliau menoleh ke arahku.

“Siapa dia?” tanyanya.

“Yuda, teman sekelasku,” jawabku.

“Azkiya, aku tak menghalangi kamu berhubungan dengan seorang lelaki. Tapi ingatlah siapa dirimu. Suatu saat nanti bisa jadi dia yang menjadi targetmu,” kata ibuku.

“Aku sudah putuskan, aku tak akan bisa menyakitinya,” kataku.

“Apa? Kamu gila!”

“Iya bu, aku gila! Aku gila karena sejak kecil aku sudah merasakan darah, sudah bisa memegang senjata, sudah bisa memainkan pisau. Aku gila, tapi setidaknya ibu ijinkan aku untuk kegilaan yang satu ini,” kataku sambil menunduk.

“Aku yakin, dia tak akan menerimamu kalau tahu siapa kamu sebenarnya. Maka dari itulah ibu tak pernah berhubungan dengan lelaki lain selain ayahmu. Kamu akan menyesal seumur hidup suatu saat nanti.”

“Aku sudah siap ibu. Aku tak bisa melepaskan bayang-bayang dirinya. Aku jatuh cinta kepadanya.”

Ibu tak bersuara. Aku segera masuk ke dalam kamarku, meninggalkan beliau sendirian. Malam ini ada pekerjaan, maka dari itulah aku harus siap. Mau tahu kodeku? Kode namaku adalah Red Assasin.

**~o~**

Aku berdiri di atas sebuah gedung. Baju merah dengan cadar aku kenakan. Di tubuhku terpasang puluhan pisau, pistol dan senjata-senjata mematikan lainnya. Targetku adalah salah seorang anggota Dewan. Fotonya sudah aku dapatkan di ponselku. Dia mempunyai sebuah usaha karaoke di kota ini. Tinggal menunggu dia masuk ke tempatnya apa susahnya. Memang tugas ini perlu kesabaran, kegesitan dan tentu saja keberanian.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih lima belas menit. Dia pun datang, keluar dari mobilnya. Dia masuk bersama beberapa wanita panggilan yang dia beli malam ini. Aku pun segera berjalan melompati beberapa atap gedung hingga sampai di atas gedungnya, lalu segera aku masuk melalui atapnya.

Aku berjalan turun ke bawah, menuruni tangga darurat. Hingga kemudian aku muncul dari lantai lima gedung ini. Salah seorang karyawan yang melihatku segera ketakutan, mungkin karena aku sudah membawa golok di kedua tanganku. Aku tak peduli mau dia panggil sekuriti atau polisi sekalipun.

Aku terus turun ke bawah hingga sampai di sebuah lorong panjang yang penuh dengan kamar-kamar untuk para pelanggan karaoke. Aku melihat kaca di pintu mereka satu per satu. Dan aku pun mendapati kamar tempat sang target berada.

Dari dalam kamar itu aku melihat seorang wanita telanjang sedang berayun di atas selakangannya. Wanita itu cukup seksi, buah dadanya bergantungan, sementara wanita yang satunya dengan bermain lidah dengan targetku. Pintunya dikunci. Tak masalah, aku bisa menendangnya, aku bisa menghancurkan pintu itu. Maka dengan satu tendangan BRAK! Pintu pun terbuka. Tak perlu ditanya bagaimana orang seperti aku bisa menghancurkan pintu dengan sekali tendangan? Karena faktor pintu, juga karena faktor aku bukan seorang manusia biasa yang tanpa peralatan yang canggih. Sepatuku sendiri adalah sepatu khusus yang dibuat dengan teknologi militer. Mampu melipat gandakan kekuatanku. Ah, kalau tak salah ada anime dan manga yang punya sepatu seperti aku, Detective Conan.

“Siapa? Siapa kamu?” tanya sang target sambil terkejut.

Kedua wanita panggilan itu ketakutan dan langsung berjingkat. Tanpa banyak tanya aku langsung memutar-mutar golokku dan menancapkan di dada orang itu. ZLEB! Matanya melotot menatapku. Aku tak pernah peduli dia punya sanak saudara ataukah tidak. Aku hanya peduli pekerjaanku. Setelah yakin dia mati, aku cabut golokku. Aku menekan dadanya dan kutarik golokku. Darah mengucur dari lukanya.

Dari pintu masuklah seorang petugas sekuriti. Dia langsung menyerangku dengan tongkatnya. Dasar bodoh. Aku menyabetkan golokku ke perutnya. Ia langsung terkapar. Beberapa sekuriti lain datang. Mereka ketakutan ketika melihatku yang sudah membunuh teman mereka. Dengan langkah tenang aku mengacungkan golokku ke arah mereka. Kemudian pergi menuju atap, ke tempat aku masuk tadi.

Mereka berusaha mengikutiku, tapi aku terlalu gesit. Dalam sekejap aku sudah melompat-lompat dari satu gedung ke gedung yang lain kemudian turun ke jalan raya mengenakan kembali bajuku kemudian pulang.

Tak ada yang lebih menggembirakan selain sebuah pesan yang muncul di ponselku, “Assigment Cleared. Money Transfered.”

#PoV Yuda#

Kenapa dia menciumku? Brooke, kamu itu misterius. Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Dari sorot matamu, dari gerakan tubuhmu, kamu ini bukan orang biasa. Entah apa yang sedang engkau hadapi saat ini. Kuharap kamu adalah orang baik-baik.

Tapi aku yakin kamu orang baik-baik, sekali pun aku bisa merasakan ketika menyentuh telapak tanganmu ada sebuah sisi yang lebih kasar daripada yang lain. Sisi yang biasa digunakan untuk memegang senjata. Aku bisa mengetahuinya karena aku juga sering memegang golok maupun karambit ketika berlatih.

Dari genggaman tanganmu aku bisa rasakan kamu terlalu sering membawa senjata, Kamu pasti juga lihai dalam memainkan senjata. Terlebih ada bau yang tidak hilang, sekalipun sedikit. Bau tubuhmu anyir darah.

(bersambung….)

Author: 

Related Posts