Cerita Sex Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 5

Cerita Sex Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 5by adminon.Cerita Sex Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 5Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 5 CHAPTER 5 : MUNA DAN MUNI -1 Ritual Bundato telah aku jalani, dengan jamuan nikmat yang diberikan oleh Mbui atas perintah Tapulu. Aku sangat menikmati hal ini, ritual yang menghapuskan segala batasan dan norma dalam kehidupan suku Lihito. Seusai Ritual seks antara aku dan Mbui, dia kembali […]

multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Skinny, Bik-8 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Skinny, Bik-9 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Skinny, Bik-10Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 5

CHAPTER 5 : MUNA DAN MUNI -1

Ritual Bundato telah aku jalani, dengan jamuan nikmat yang diberikan oleh Mbui atas perintah Tapulu. Aku sangat menikmati hal ini, ritual yang menghapuskan segala batasan dan norma dalam kehidupan suku Lihito.
Seusai Ritual seks antara aku dan Mbui, dia kembali meminta dan meminta untuk disetubuhi tanpa kenal tempat dan waktu. Sepanjang hari kami habiskan bersetubuh hingga rasanya ruas-ruas tulangku seperti kosong dan tak lagi bertenaga untuk digerakkan. Ada lebih dari sepuluh kali kami bersetubuh dari siang itu hingga esok harinya, dan Tapulu sebagai suaminya tak pernah melarang atau menegur kami, bahkan terkesan cuek dan malah seperti senang melihat persetubuhan kami.

Menjelang hari ketiga menikmati tubuh Mbui, aku pun kembali ke tempatku. Muna dan Muni menemani perjalananku yang sebenarnya tak perlu.

Kembalilah ke tempat tinggal Pak Anton. Muna dan Muni akan mengantarkan Pak Anton kesana ucap Tapulu memerintahku.

Iya, Pak Anton. Istirahatlah di rumahnya Pak Anton. Kembalilah jika Pak Anton masih menginginkan saya… Mbui berbisik pelan di telingaku.

Aku tersenyum, mengangguk setuju.

Kami tiba ditempatku yang sepi. Muna dan Muni tak lama kemudian pamit pulang setelah meletakkan banyak makanan dan minuman pemulih stamina. Tinggallah aku sendiri di rumah kecil itu, merebahkan tubuh diatas alas tidur. Terasa lelah dan lemas. Dua hari aku harus memuaskan dan dipuaskan Mbui, bersetubuh dengan ganas dan penuh nafsu. Vagina Mbui telah penuh terisi spermaku, bahkan prutnyapun pasti kekenyangan karena sering menelan cairan spermaku.

Anehnya, Mbui seperti tidak terpengaruh dengan kehadiran suaminya maupun kedua putrinya saat kami bersetubuh. Desahan, erangan, goyangan pinggul, cengkeraman ditubuhku, tek pernah dihentikan meskipun suami dan putri-putrinya didekat kami, bahkan sambil menjawab pertanyaan suaminya dia tetap melakukan aktivitas seks bersamaku. Akupun lama kelamaan terbiasa dengan suasana itu, tak peduli dengan keadaan sekitar…

Matahari baru berada di atas zenith, akupun melepaskan lelah ditempat tidur. Aku berencana bahwa hari ini akan aku gunakan untuk tiduran saja agar stamina yang telah terkuras selama dua hari penuh setidaknya sebagian akan pulih kembali.
Udara siang yang sejuk menambah rasa kantuk di mataku, perlahan aku mulai hanyut dan tenggelam dalam hybernasi yang cukup panjang. Menjelang sore hari (waktu hampir Maghrib) aku terbangun dari tidurku. Ku gerak-gerakkan badanku dan meregangkan tangan dan tubuh yang terasa mulai segar.

Biar lebih segar aku pergi ke danau untuk mandi. Sesampai di danau aku lihat beberapa warga sedang mandi. Diantara warga yang sedang mandi itu nampak Pak Lapu dan Bu Panio. Melihat kedatanganku warga yang sedang mandi itu melambai padaku, sebagian menyapaku sambil tersenyum, senyum tulus. Aku tersenyum membalas sapaan mereka. Tanpa perasaan canggung sedikitpun aku langsung membuka seluruh pakaianku, telanjang dengan Junior yang tergantung lemas diapit dua buah telur….
Mereka yang sedang mandi tak satupun yang menutupi tubuh dengan kain, semuanya bugil, dan tak satupun juga yang peduli dengan ketelanjangan yang lainnya. Mereka asyik beraktivitas tanpa memandang konak tubuh telanjang orang lain, atau mencoba grepe-grepe tubuh wanita disampingnya yang lagi bugil, mereka tak seperti aku atau para agan, langsung grepe-grepe jika ada wanita seksi yang sedang berdiri menantang setengah bugil aja didekatnya…

Pak Anton… sebuah suara memanggilku. Nampak Bu Panio berjalan mendekatiku. Payudaranya yang masih montok bergoyang pelan, namun tak dipedulikannya karena memang semua saat itu sedang bugil seperti dirinya.

Aku mengalihkan pandangan pada tubuh Bu Panio. Memandang takjub ke arah selangkangannya yang begitu indah menawan hati (puihhhh,,,, dasar mesum…)

Sebentar nanti Pak Anton datanglah ke rumah kami ucap Bu Panio singkat namun mengandung arti.

Iya, saya akan usahakan

Kalau Pak Anton tak bisa datang, biarlah saya yang akan datang ke rumah Pak Anton

Iya. Saya masih capek. Mungkin saya akan istirahat dulu malam ini.

Tak minum ramuan ?

Sudah, tapi masih capek

Oh… Bu Panio tersenyum penuh arti.

Bu Panio melangkah pergi. Akupun meneruskan mandiku. Setelah puas berendam di air danau yang sejuk, akupun bergegas kembali ke rumah. Ingin tidur sepuasnya.
—————————————–
—————————————-

(Bagian berikut ini adalah bagian 75% fiksi)

POV MUNA

Beberapa hari yang lalu seorang pemuda tampan datang ke pemukiman kami. Saat itu dia datang ditemani oleh Pak Juna. Pak Juna adalah seorang pria paruh baya yang sudah sering datang berkunjung ke tempat ini. Soal ketangguhan Pak Juna, jangan ditanya lagi. Pernah dia bertarung dengan Ibu seharian tanpa kena lelah. Perkasa benar pria satu ini. Soal pria sebenarnya aku tahu banyak, tapi bukan karena aku sudah pernah bersetubuh dengan pria, bukan ! tapi karena aku sudah sering menyaksikan persetubuhan yang dilakukan wanita-wanita dipemukiman ini.
Bagi kami, persetubuhan bukanlah hal yang tabu, tapi justeru hal ini menunjukkan bahwa kami wanita suku Lihito lebih tinggi derajatnya daripada pria. Buktinya kami bisa menaklukkan para pria.

Kembali ke pria tampan tadi.
Namanya Anton. Dia datang dari Kota, entah kota mana aku tak tahu. Maklum aku tak pernah kesana. Kata Bapak orang kota itu berbahaya, entah kenapa Bapak bisa mengambil kesimpulan seperti itu.

Kak Anton, begtulah aku memanggilnya. Dia diberi tempat tinggal oleh Bapak ditepi Danau perbatasan hutan rimba dengan pemukiman. Kasihan juga, dia hanya sendirian disana. Aku sebenarnya ingin menemaninya disana, memasak untuknya, mencuci baju untuknya, dan kalau bisa menghangatkan tidurnya. Tapi memang tak boleh, karena Kak Anton pekerjaannya tak boleh diganggu. Konon katanya dia hendak membuat sesuatu yang berguna untuk warga suku Lihito.

Aku sering mengantarkan makanan dan minuman untuk Kak Anton. Meskipun agak jauh, aku rela melakukannya, ada seperti perasaan senang dan damai jika memandang wajah Kak Anton dan berdekatan dengannya. Adikku Muni juga sepertinya merasakan hal yang sama. Kadang aku berusaha menahan Muni agar tak ikut denganku untuk mengantarkan makanan dan minuman buat Kak Anton, tapi Muni tetap ngotot mau ikut. Hadeh…, dasar si anak manja…!

Kemarin Kak Anton menjalani prosesi Bundato. Seharian dia bercinta dengan Ibu, seperti tak ada habisnya tenaga mereka. Aku ingin teriak keras ketika melihat kemaluan Kak Anton, Wow ! panjang, besar dan berurat. Aku tak pernah melihat penis sebesar ini. Punya Bapak saja kalah, padahal Bapak sering menggunakan ramuan special suku Lihito yang berfungsi untuk memperbesar alat kejantanan, tapi masih kalah gede juga, pantesan Ibu tak pernah mau berhenti untuk bertempur dengan Kak Anton.
Aku memang tak pernah merasakan bagaimana vaginaku ditusuk oleh benda panjang dan keras seperti itu, tapi dari erangan dan desahan mereka aku yakin kalau mereka sedang keenakan.

Hmmmm…, Muni sangat beruntung dibandingkan aku. Dia sudah pernah merasakan kenikmatan itu. Kata Muni awalnya terasa sakit ditusuk oleh benda itu, tapi lama kelamaan akan terasa nikmat. Entah bagaimana rasanya kenikmatan itu, aku hanya sanggup untuk membayangkannya saja tanpa pernah merasakannya.

Seharian Ibu dan Kak Anton melakukan persetubuhan. Dan aku ? aku mengurung diri dalam kamar. Suara desahan dan erangan mereka semakin membuatku sakit. Iya sakit ! karena aku sangat menginginkan akulah yang jadi persembahan buat Kak Anton, bukan Ibu. Tapi Bapak telah menetapkan pada musyawarah kecil keluarga kami.

Kemarin saat aku dan Muni pergi ke tempat Kak Anton, aku sangat ingin menyuruh Muni untuk segera pulang. Tapi Muni tak mau. Entah kenapa dia begitu, tak mau taat padaku. Ikh !

Saat kami bertiga berjalan beriringan menuju rumah, kulirik Kak Anton berjalan sambil mencuri-curi pandang ke arah bokongku. Aku yakin dia sedang membayangkan hal mesum tentang aku. Sempat kudengar dia mendesah dibelakangku.

Ahhhhh…

Aku menoleh ke arahnya. Ada apa Kak Anton ?

Ah, tak apa-apa dia berbohong. Padahal jelas-jelas kulihat jakunnya turun naik. Sayang sekali ada Muni, andai dia tak ada pastilah aku meminta Kak Anton untuk menyetubuhiku ditempat itu. Meskipun Muni berjalan paling depan, tapi aku tak ingin Muni ikut-ikutan minta bersetubuh dengan Kak Anton. Kupendam keinginan itu, hingga akhirnya Ibulah yang menerima kenikmatan itu.

Malam itu, aku keluar rumah diam-diam. Aku hendak pergi ke rumah Kak Anton. Malam ini aku akan menemaninya tidur, dan akan memintanya untuk mengajariku bersetubuh.
Kulihat Muni sedang terlelap dikamarnya. Dengan mengendap-ngendap aku keluar rumah. Repot juga. Andai tradisi Rumah Cinta tak dihilangkan, maka pasti aku akan bebas pergi kemana saja, meminta Kak Anton mendatangiku dan semuanya…., tapi sayang tak ada lagi rumah cinta. Kami telah ditempatkan dirumah ini dengan kamar-kamar besar pengganti rumah cinta.

Kegelapan malam aku susuri dengan langkah yang tergesa-gesa. Aku tak perlu khawatir akan tersesat, karena jalanan ini sudah sangat aku hafal. Aku setengah berlari menuju rumah Kak Anton. Nampak lampu Rumah Kak Anton masih menyala pertanda bahwa Kak Anton belum tidur.
Lamat-lamat kudengar suara orang. Mungkin Kak Anton kedatangan tamu. Ada warga yang datang berkunjung untuk memberikan ucapan selamat padanya.
Ketika hendak mengetuk pintu rumahnya…..

Sssshhhh…., Pak Anton….., sungguh nikmatnya… terdengar erangan seperti saat Kak Anton dan Ibu bersetubuh.

Aku melangkah hati-hati. Kukuak sedikit pintu rumahnya, mengintip ke dalam, dan….ugh..

Bu Panio…, jepitanmu kencang benar. Seperti perawan… uhmmm… suara Kak Anton.

Habis milik Pak Anton besar. Aku selama ini hanyahhh,,, uhhhh…. ditusuk dengan…hssshh barang suamiku yang kecil,,, hsssshhh

Nampak olehku Kak Anton sedang menggoyangkan pantatnya, seperti apa yang dilakukannya tadi bersama Ibu. Mereka saling berpelukan, kaki Ta Panio dilingkarkan ke pinggang Kak Anton, mulutnya tak lepas dari pagutan Kak Anton.

Aku menggeram marah. Kenapa Kak Anton malah memilih Ta Panio dari pada aku ? Teganya Kak Anton. Seharusnya sebelum dia bersetubuh dengan Ta Panio, dia harus mengajariku dulu.
Aku kembali mengintip, kelihatannya mereka sudah mendekati ahir dari permainan. Kulihat Ta Panio berhenti menggoyangkan pinggulnya, Tinggal Kak Anton yang terus menggenjot. Genjotannya makin cepat, dan ….

BRAKKKKKK !

Aku juga pengen, aku mauuuuuu….

Aku terkejut. Dobrakan pintu dan suara keras terdengar. Lebih terkejut lagi ketika kulihat Muni berdiri didekat Kak Anton dan Ta Panio yang sedang bersetubuh. Bagaimana bisa Muni ada disini ? bukankah dia tadi sedang tidur ?

Tunggulah sejenak, Muni. Aku mau menyelesaikannya dulu ucap Kak Anton sambil terus menggenjot Ta Panio.

Tapi setelah ini Kak Anton harus menyetubuhiku. Muni merengut manja.

Aku semakin tak karuan. Rasanya aku hendak masuk dan menarik tangan Muni dan menyuruhnya pulang.
Tapi….., ada apa denganku ? Bukankah Kak Anton bebas dinikmati oleh siapa saja di pemukiman ini ? Dia telah selesai mmenjalani prosesi Bundato…..

POV MUNI

Aku heran dengan perubahan Kak Muna. Tak biasanya dia seperti ini. Selalu saja dia ingin menemui Kak Anton, seakan-akan Kak Anton miliknya. Huh…!

Ketika Kak Anton datang ke pemukiman ini, aku berharap Kak Anton akan menjalani prosesi Bundato denganku. Sudah lama liang kenikmatanku tidak diterobos oleh benda panjang dan licin milik pria. Sudah hampir lima purnama.
Beberapa purnama yang lalu seorang pria datang kepemukiman kami, lalu seperti Kak Anton, dia menjalani prosesi Bundato. Akulah yang dipilih Bapak untuk menjadi persembahan. Nikmat benar prosesi itu, meskipun pada awalnya terasa nyeri, tapi lama kelamaan setelah persetubuha itu diulang kesekian kalinya, perasaan nyeri hilang berganti kenikmatan yang tiada tara.

Kak Muna sempat menanyakan bagaimana rasanya diteobos oleh benda itu, aku jawab saja sekenanya. Kasihan juga Kak Muna, sebagai kakak tentunya dia pasti merasa dianak tirikan. Dia tak dipilih Bapak untuk menjalani prosesi nikmat itu.

Dengan kedatangan Kak Anton kulihat ada terbersit harapn dihatinya, semua nampak dari perubahan sikapnya, ingin terus berdekatan dengan Kak Anton. Sayangnya bukan dia yang dipilih Bapak, melainkan ibu.
Aku yakin Kak Muna menginginkan Kak Anton. Terbukti malam itu

Author: 

Related Posts